Langsung ke konten utama

Larangan vs Paksaan Perempuan untuk Bekerja

Sebagai perempuan, menurutku perempuan memang makhluk Allah paling ribet.

Sebagai perempuan, kami tidak suka dipaksa, tapi kami juga tidak suka apabila tidak diperhatikan (dibiarkan) wkwk.

Mungkin ada benarnya hadits Nabi,

"Berbuat baiklah pada para wanita. Karena wanita diciptakan dari tulang rusuk, dan bagian paling bengkok dari tulang rusuk adalah bagian atasnya. Jika engkau berusaha meluruskannya, maka ia akan patah, dan jika engkau membiarkannya maka ia akan tetap bengkok. Maka, berbuat baiklah pada para wanita." (HR. Bukhari No. 3331 & Muslim No. 1468)

Perenungan kali ini adalah semata-mata untuk mengenal diriku. Karena "Barangsiapa yang mengenal dirinya, mengenal Tuhannya" kata para ulama.

Jadi kali ini, dengan agak berat hati (dan penuh amusement juga wkwk), aku harus berempati kepada seluruh kaum Adam yang sulit memahami kami hahaha.

Tapi memang beginilah kami.

Sebagaimana laki-laki memiliki kelebihan dan kelemahan, perempuan pun memiliki kelebihan dan kelemahan.

Setelah bertemu dengan banyak sekali laki-laki, sebagian besar dari mereka hanya masuk ke dalam 2 kriteria:

1. Laki-laki yang gemar memaksa dan melarang.

2. Laki-laki yang membiarkan semaunya sendiri.

Agar tak terkesan normatif, mari kita ambil contoh tentang konsep wanita bekerja. Acapkali laki-laki itu melarang perempuan untuk bekerja dan berkarya (memaksa mereka di dalam rumah terus) ATAU malah membiarkan perempuan, terserah ia mau ngapain aja (bahkan sampai-sampai tidak diberi nafkah karena dianggap bisa cari uang sendiri).

Kuberi tahu yaa: DUA-DUANYA MENYAKITKAN BAGI PEREMPUAN.

Dalam perspektifku, mengapa aku mau bekerja/belajar yang tinggi/mencari pengalaman/menjadi berdaya, karena aku ingin menjadi perempuan tangguh yang membantu imam kami menegakkan struktur keluarga.

Terkadang keluarga ini akan berhadapan pada situasi sulit. Aku ingin menjadi jaring pengaman yang membantu men-support struktur tersebut agar tidak ambruk.

Namun bagaimana aku bisa membantu jika aku tidak tahu apa-apa? Tidak bisa apa-apa?

Bagaimana jika sang suami tiba-tiba menghadapi suatu kesulitan? Lumpuh? Pergi ke medan jihad misalkan? Bahkan meninggal dunia?

Apa yang akan aku lakukan jika aku tidak berdaya?

Diam menunggu uluran tangan?

Sementara Allah berfirman bahwa Ia tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum mereka sendiri BERGERAK.

Maka, hendaknya laki-laki sadar untuk memberikan para perempuan ruang bertumbuh. Karena perempuan mencintainya, mencintai anak-anak dan keluarganya, mencintai agamanya, dan utamanya mencintai Tuhannya.

Bagi kami, perempuan tidak penting untuk mengungguli laki-laki.

Menjadi imam itu berat, mengapa kami berminat untuk mengambil-alih tugas itu?

Sehingga di sisi lain, ketika kami sudah berdaya pun, jangan melepaskan kami yang membutuhkan pemimpin dan naungan ini.

Jangan berhenti menafkahi kami, jangan berhenti menasehati kami, jangan berhenti menyayangi kami...

Karena lewat hubungan itu lah, dinamika dua gender yang berbeda itu lah, Allah mengamanatkan kita untuk menjadi, melahirkan, dan mendidik khalifah di muka bumi.

Semoga Allah memudahkanmu, laki-laki untuk menjadi payung teduh yang membimbing para perempuan dengan kebijaksanaan.


.

Ponorogo, 19 Maret 2026

Lagi feeling blue wkwk,

@kucingmasjid_

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dear Husband, Everywhere is A Dying City

I understand why overthinking is a bad habit, not just a psychological issue, sometimes it can even lead to sins — lots of them. But we live in a dying city, although just like in everywhere else. It's so tiring to see such a fast-paced world. No rest, no emotion, people race to reach higher places... Although how high is high enough? I don't know. I'm dreaming of a simple and unsophisticated life. Anyway in the surah Quraish, a blessed person has enough to eat and is safe against fear. No Ferrari, no 4-storey house, no Gucci... Just a simple meal and protection. And yes, that's true... How much can you eat before your stomach exploded?  We don't need a lot... We just need simple things... الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ (4) But today, even food and security is a privilege, so are housing, clothing, healthcare, and education. Indeed, we live in a crossroad of ideologies. This world — that's dying — has developed Capitalism to its finest. ...

Membedah Baqa' dalam Diri

Manusia fitrahnya memang dilengkapi dengan naluri-naluri ( gharaiz ( plural ), gharizah ( singular )). Yang pertama ada naluri ingin menyembah sesuatu ( gharizah tadayyun ), kemudian naluri ingin mencintai ( gharizah nau' ), dan terakhir naluri mempertahankan diri ( baqa' ). Bagi orang yang pernah membaca kitab ulama kontemporer, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani pasti aware  dengan naluri alamiah manusia ini. Mempunyai naluri itu tidak dosa, karena mau bagaimana lagi? Itu sudah karakter alami manusia. Jadi, pahala dan dosa hanya berlaku dalam konteks bagaimana cara manusia memuaskan naluri itu, dengan cara-cara yang halal kah atau haram? Sepertinya dalam analisis saya terhadap diri sendiri, naluri saya yang paling dominan adalah baqa' . Ego saya sangat keras dan tinggi, dan jika tidak didudukkan saya tahu saya sangat berpotensi membuat dosa karena hal itu suatu hari nanti. Kemudian akhir-akhir ini saya kembali berada di persimpangan jalan dimana gharizah baqa'  saya tersent...

Polemik Laki-Laki & Perempuan

  Kapitalisme yang disponsori oleh Neoliberalisme membuat rakyat harus banting-tulang memenuhi kebutuhan yang seharusnya difasilitasi oleh publik. Sebut saja sekolah/pendidikan, kesehatan, dan akses-akses lainnya. Ditambah lagi tingginya pajak (yang dijadikan simbol pertumbuhan ekonomi) membuat kebutuhan pokok sehari-hari semakin mencekik. Tidak sebanding dengan kenaikan pajak-pajak itu, yang ternyata hanyalah angka tanpa kontribusi yang berarti kepada pembangunan, kecuali pembangunan orang-orang yang sudah kaya agar semakin kaya. Imbasnya apa? Harga rumah mahal. Harga makanan sehari-hari pun mahal. Tanpa membawa-bawa tendensi sebagian dari kita yang lebih suka barang-barang branded , bahkan ketika kita tidak neko-neko pun yang penting bisa 'bertahan hidup' saja, itu sudah menjadi sesuatu yang berat. Tak terkecuali kehidupan suami-istri yang penuh dengan huru-hara terkait ekonomi. Saya yakin patriarki itu ada, tapi saya tidak melihat keluarga saya dominan dalam patriarki, bahka...