Beberapa pekan lalu, saya mengikuti kuliah tamu yang diselenggarakan oleh suatu komunitas literasi agraria dari IPB. Pembicaranya seorang dosen, Bu Rena menjelaskan tentang Theory of Access yang dipopulerkan oleh Ribot dan Peluso. Tak disangka, pembahasan tersebut mengetuk sanubari keimanan saya, meskipun pembahasannya sama sekali tidak melibatkan unsur-unsur keagamaan tersebut. Hidup ini semuanya adalah tentang akses. Begitu cinta Allah kepada hamba-Nya, Ia menganugerahkan kepada mereka akses yang paling sederhana adalah oksigen dan nafas. Dalam tataran yang lebih menggugah, Ia bahkan berjanji untuk tidak mengazab suatu kaum sebelum diutus seorang rasul/pembawa risalah ke tengah-tengah mereka. مَّنِ ٱهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِى لِنَفْسِهِۦ ۖ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا "Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (ke...
Paus pengembara ini terbiasa pergi jauh sendirian. Jika bukan jarak, maka imajinasiku lah yang pergi jauh. Sejak remaja aku bermimpi betapa menyenangkannya jika bisa naik kereta ekspres melintasi daratan Rusia, kemudian belok ke Mongolia, dan Cina. Jika aku lahir di masa pra-modern, mungkin akan menyenangkan bisa mengikuti karavan Asia Tengah melintasi jalur sutra, atau menetap di sebuah padang hijau yang luas. Apa memang aku ditakdirkan untuk banyak merasakan tempat-tempat baru? Di kota pelabuhan Jawa Timur itu aku lahir, lalu bapak-ibuku mengajakku tinggal berpindah, dari Manado, Malang, kemudian ke ibukota ini, kembali ke tanah Jawa, lalu kembali ke ibukota lagi. Aku juga pernah merasakan Solo dengan ketenangan klasiknya, Jogja dengan hiruk-pikuknya, Bandung dengan syahdunya, Garut dengan langitnya yang luas, Bogor dengan bau petrichor -nya. Ah, cukup banyak rupanya. Belum kusebutkan Banjarmasin, Martapura, Cirebon, Semarang, Lebak, dan kota-kota kecil dimana keluargaku tersebar, at...