Langsung ke konten utama

Postingan

Empowering Through Access: Revolusi yang Kita Semua Butuhkan (Pandangan Ideologis, Politik, Ekonomi, dan Sosial-Budaya)

  Beberapa pekan lalu, saya mengikuti kuliah tamu yang diselenggarakan oleh suatu komunitas literasi agraria dari IPB. Pembicaranya seorang dosen, Bu Rena menjelaskan tentang Theory of Access yang dipopulerkan oleh Ribot dan Peluso. Tak disangka, pembahasan tersebut mengetuk sanubari keimanan saya, meskipun pembahasannya sama sekali tidak melibatkan unsur-unsur keagamaan tersebut. Hidup ini semuanya adalah tentang akses. Begitu cinta Allah kepada hamba-Nya, Ia menganugerahkan kepada mereka akses yang paling sederhana adalah oksigen dan nafas. Dalam tataran yang lebih menggugah, Ia bahkan berjanji untuk tidak mengazab suatu kaum sebelum diutus seorang rasul/pembawa risalah ke tengah-tengah mereka. مَّنِ ٱهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِى لِنَفْسِهِۦ ۖ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا "Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (ke...
Postingan terbaru

Hamba-Mu Ini Tak Pernah Takut Pergi Jauh

Paus pengembara ini terbiasa pergi jauh sendirian. Jika bukan jarak, maka imajinasiku lah yang pergi jauh. Sejak remaja aku bermimpi betapa menyenangkannya jika bisa naik kereta ekspres melintasi daratan Rusia, kemudian belok ke Mongolia, dan Cina. Jika aku lahir di masa pra-modern, mungkin akan menyenangkan bisa mengikuti karavan Asia Tengah melintasi jalur sutra, atau menetap di sebuah padang hijau yang luas. Apa memang aku ditakdirkan untuk banyak merasakan tempat-tempat baru? Di kota pelabuhan Jawa Timur itu aku lahir, lalu bapak-ibuku mengajakku tinggal berpindah, dari Manado, Malang, kemudian ke ibukota ini, kembali ke tanah Jawa, lalu kembali ke ibukota lagi. Aku juga pernah merasakan Solo dengan ketenangan klasiknya, Jogja dengan hiruk-pikuknya, Bandung dengan syahdunya, Garut dengan langitnya yang luas, Bogor dengan bau petrichor -nya. Ah, cukup banyak rupanya. Belum kusebutkan Banjarmasin, Martapura, Cirebon, Semarang, Lebak, dan kota-kota kecil dimana keluargaku tersebar, at...

Larangan vs Paksaan Perempuan untuk Bekerja

Sebagai perempuan, menurutku perempuan memang makhluk Allah paling ribet. Sebagai perempuan, kami tidak suka dipaksa, tapi kami juga tidak suka apabila tidak diperhatikan (dibiarkan) wkwk. Mungkin ada benarnya hadits Nabi, "Berbuat baiklah pada para wanita. Karena wanita diciptakan dari tulang rusuk, dan bagian paling bengkok dari tulang rusuk adalah bagian atasnya. Jika engkau berusaha meluruskannya, maka ia akan patah, dan jika engkau membiarkannya maka ia akan tetap bengkok. Maka, berbuat baiklah pada para wanita." (HR. Bukhari No. 3331 & Muslim No. 1468) Perenungan kali ini adalah semata-mata untuk mengenal diriku. Karena "Barangsiapa yang mengenal dirinya, mengenal Tuhannya" kata para ulama. Jadi kali ini, dengan agak berat hati (dan penuh amusement juga wkwk), aku harus berempati kepada seluruh kaum Adam yang sulit memahami kami hahaha. Tapi memang beginilah kami. Sebagaimana laki-laki memiliki kelebihan dan kelemahan, perempuan pun memiliki kelebihan dan...

Polemik Laki-Laki & Perempuan

  Kapitalisme yang disponsori oleh Neoliberalisme membuat rakyat harus banting-tulang memenuhi kebutuhan yang seharusnya difasilitasi oleh publik. Sebut saja sekolah/pendidikan, kesehatan, dan akses-akses lainnya. Ditambah lagi tingginya pajak (yang dijadikan simbol pertumbuhan ekonomi) membuat kebutuhan pokok sehari-hari semakin mencekik. Tidak sebanding dengan kenaikan pajak-pajak itu, yang ternyata hanyalah angka tanpa kontribusi yang berarti kepada pembangunan, kecuali pembangunan orang-orang yang sudah kaya agar semakin kaya. Imbasnya apa? Harga rumah mahal. Harga makanan sehari-hari pun mahal. Tanpa membawa-bawa tendensi sebagian dari kita yang lebih suka barang-barang branded , bahkan ketika kita tidak neko-neko pun yang penting bisa 'bertahan hidup' saja, itu sudah menjadi sesuatu yang berat. Tak terkecuali kehidupan suami-istri yang penuh dengan huru-hara terkait ekonomi. Saya yakin patriarki itu ada, tapi saya tidak melihat keluarga saya dominan dalam patriarki, bahka...

Dear Husband, Everywhere is A Dying City

I understand why overthinking is a bad habit, not just a psychological issue, sometimes it can even lead to sins — lots of them. But we live in a dying city, although just like in everywhere else. It's so tiring to see such a fast-paced world. No rest, no emotion, people race to reach higher places... Although how high is high enough? I don't know. I'm dreaming of a simple and unsophisticated life. Anyway in the surah Quraish, a blessed person has enough to eat and is safe against fear. No Ferrari, no 4-storey house, no Gucci... Just a simple meal and protection. And yes, that's true... How much can you eat before your stomach exploded?  We don't need a lot... We just need simple things... الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ (4) But today, even food and security is a privilege, so are housing, clothing, healthcare, and education. Indeed, we live in a crossroad of ideologies. This world — that's dying — has developed Capitalism to its finest. ...

Membedah Baqa' dalam Diri

Manusia fitrahnya memang dilengkapi dengan naluri-naluri ( gharaiz ( plural ), gharizah ( singular )). Yang pertama ada naluri ingin menyembah sesuatu ( gharizah tadayyun ), kemudian naluri ingin mencintai ( gharizah nau' ), dan terakhir naluri mempertahankan diri ( baqa' ). Bagi orang yang pernah membaca kitab ulama kontemporer, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani pasti aware  dengan naluri alamiah manusia ini. Mempunyai naluri itu tidak dosa, karena mau bagaimana lagi? Itu sudah karakter alami manusia. Jadi, pahala dan dosa hanya berlaku dalam konteks bagaimana cara manusia memuaskan naluri itu, dengan cara-cara yang halal kah atau haram? Sepertinya dalam analisis saya terhadap diri sendiri, naluri saya yang paling dominan adalah baqa' . Ego saya sangat keras dan tinggi, dan jika tidak didudukkan saya tahu saya sangat berpotensi membuat dosa karena hal itu suatu hari nanti. Kemudian akhir-akhir ini saya kembali berada di persimpangan jalan dimana gharizah baqa'  saya tersent...

The Most Exhausting Time of Life

On the road home this evening, I saw some stupid motorcycle driver ran toward an Aqua truck which - obviously - in the position of turning right and apparently just waiting for the right moment to enter its warehouse yard. What I meant by the 'right moment' was the moment where people, especially motorbike drivers gave it a chance to finish its business, instead of kept driving between the empty space of the truck and its yard. Alas, that motorcycle crashed into that truck and found its poor fate. Although it's a good thing its driver and passenger were still alive, I presumed. Honestly, sometimes I was that stupid driver. Time is trying to catch me, on the road, I need to finish it quick before boredom and sleepiness swallows me away. On the long, unexciting road to the office, I'm trying to fight my exhaustion. The only part that made me feel good every day on the road to office was this tiny road path filled with trees on both sides. Now it's filled with construc...