Langsung ke konten utama

Empowering Through Access: Revolusi yang Kita Semua Butuhkan (Pandangan Ideologis, Politik, Ekonomi, dan Sosial-Budaya)

 

Beberapa pekan lalu, saya mengikuti kuliah tamu yang diselenggarakan oleh suatu komunitas literasi agraria dari IPB. Pembicaranya seorang dosen, Bu Rena menjelaskan tentang Theory of Access yang dipopulerkan oleh Ribot dan Peluso. Tak disangka, pembahasan tersebut mengetuk sanubari keimanan saya, meskipun pembahasannya sama sekali tidak melibatkan unsur-unsur keagamaan tersebut.

Hidup ini semuanya adalah tentang akses. Begitu cinta Allah kepada hamba-Nya, Ia menganugerahkan kepada mereka akses yang paling sederhana adalah oksigen dan nafas. Dalam tataran yang lebih menggugah, Ia bahkan berjanji untuk tidak mengazab suatu kaum sebelum diutus seorang rasul/pembawa risalah ke tengah-tengah mereka.

مَّنِ ٱهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِى لِنَفْسِهِۦ ۖ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا
"Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul." 
(Al-Isra' (17):15)

Mengutip pembahasan Bu Rena bahwa, "Akses yang paling utama adalah pendidikan," maka Allah ingin kita belajar mengindra, membaca, dan menafsirkan. Sementara yang tidak mau, maka ia telah bodoh oleh kesombongan dan menyia-nyiakan akses itu, maka secara sunnatullah ia akan merasakan akibat dari perbuatannya.

Akses adalah anugerah yang sangat berharga

Realisasi itu semakin saya dapat ketika pulang membagikan pamflet di suatu acara festival bersama teman kerja saya. Kami membagikan pamflet dan kartu nama kepada berbagai brand yang potensial untuk diajak berkolaborasi. Meskipun hanya Allah yang tahu, apakah kolaborasi ini benar bisa terwujud, ataukah para tim marketing yang kami temui itu hanya bermanis muka seolah tertarik. 

Namun tetap saja, saya mendapatkan akses, dan itu adalah suatu anugerah yang harus saya syukuri. Bukan hanya karena Allah mengizinkan saya untuk bisa berikhtiar mendapatkan akses itu dengan tangan dan segenap kesanggupan, namun juga karena Ia menurunkan orang-orang baik di sekeliling saya yang mengizinkan saya mendapatkan akses tersebut untuk berkembang.

Di sisi lain dalam suatu realisasi bisnis, saya melihat bagaimana brand-brand besar tersebut mendapatkan akses untuk kampanye marketing yang memungkinkan mereka membangun booth megah di area open space. Mengingat bahwa biaya sewanya begitu mahal, belum juga membuat bangunan semi-permanen tersebut dan merekrut puluhan orang sebagai tim marketingnya. Tidak lupa juga untuk melakukan cashburn.

Tidak heran bahwa mereka sejatinya adalah raksasa-raksasa industri yang (untungnya) belum memonopoli pasar.

Di era Kapitalisme ini, pihak yang memiliki akses terhadap modal (ya kapital; makanya disebut Kapitalisme) adalah pihak yang menang. Kapital untuk melaksanakan kampanye-kampanye marketing tersebut, menguasai pasar, dan yang lebih mengerikan lagi: membeli kebijakan. Contoh yang paling tampak memberikan dampak ketimpangan (menurut pandangan saya yang sempit ini) adalah perusahaan-perusahaan yang menguasai sumber energi; batu bara, ataupun nikel yang pada hilirnya meracuni pasar dengan jutaan kendaraan listrik pribadi setiap tahunnya (yang pastinya bukan semata-mata untuk misi penghijauan kota saja). 

Ataukah masih ingat e-commerce asing yang dibatasi beberapa tahun lalu, sekarang bisa kembali beroperasi dengan tweak kebijakan dan izin legal pemerintah, sayangnya masa-masa cashburn-nya telah habis dan saatnya ia membebankan biaya operasional kepada pedagang lokal yang kehabisan nafas.

Pedagang lokal itu, ya mereka, seolah mati segan hidup pun tak mau. Dalam perspektif saya sebagai masyarakat domestik yang selalu mencari makna dari kearifan lokal warisan leluhur, tentunya saya tidak ingin melihat mereka mati.

Namun bagaimana jika kenyataannya, akses mereka terhadap pasar yang lebih beradab dan memberdayakan dibatasi oleh suatu kekuatan yang lebih besar? Betapa pentingnya e-commerce untuk membuat mereka menjangkau pasar yang lebih luas dan modern, sehingga untuk berkembang sulit rasanya jika mereka tidak melakukan digitalisasi. 

Akan tetapi, bagaimana bila perusahaan-perusahaan e-commerce itu mencekik mereka dengan biaya operasional yang begitu tinggi? Satu-satunya pilihan adalah memasukkan biaya admin dan tetek-bengeknya itu ke dalam struktur harga, sehingga harga produknya menjadi lebih mahal. Namun, apakah pelanggan bersedia membeli produk mereka yang dinaikkan harganya itu? Ataukah pelanggan lebih memilih produk-produk impor mass produced, persetan dengan daya tahan, nilai, dan makna, sepanjang itu lebih murah?

Mohon maaf namun harus saya katakan bahwa negara ini hendak membangkrutkan ekonomi lokal dan pelestarian sosial-budayanya sendiri.

Tentu saja, pada setiap festival atau acara-acara pameran booth UMKM hasil binaan pemerintah daerah selalu ada, dan saya pun menghargai pihak-pihak yang memberikan UMKM tersebut akses terhadap pasar ini. Namun, apakah excitement pasar terhadap mereka dominan?

Silakan menjawabnya sendiri.

Dari sini saya semakin sadar bahwa pasar di era Kapitalisme ini adalah sesuatu yang engineered. Lagi-lagi akses terhadap kapital lah yang menentukan arus pandangan masyarakat. Masyarakat yang kehilangan makna dan hanya dituntun oleh pasar, menjadi alat penambah kekayaan para pemilik modal raksasa.

Willingly lagi! Ya Allah...

Membawa akses ke dalam ranah kebangkitan

Sekali lagi, orang yang memiliki akses maka ia akan bangkit. Suatu kalimat yang selalu saya ingat ketika dahulu membaca kitab tulisan Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Nizhamul Islam adalah "Kebangkitan manusia berasal dari pemikirannya (fikr)".

Manusia yang maju itu sebenarnya bukan dari aspek-aspek materil, namun dari ideologi dan pandangan hidup apa yang ia pegang. Manusia yang kapitalis hanyalah sosok konsumtif yang merasa ia besar hanya karena memiliki banyak uang, baju-baju bagus dan mobil baru. Atau manusia yang komunis merasa besar di balik jubah solidaritas dan kesamaan kelas, yang padahal mematikan inovasi dan membentuk borjuisme baru. Semuanya adalah kebangkitan semu.

Sementara Islam memandang kebangkitan manusia justru pada kemampuannya menjaga dan mengelola diri dengan tuntunan Allah, Sang Maha pemberi akses untuknya. Dengan segala tuntunan politik, ekonomi, sosial-budaya dan turunan yang ia punya, manusia yang berideologi Islam mencegah dirinya untuk diperdaya sesama makhluk.

Mengutip penjelasan para ulama, akses sadar pertama yang Ia anugerahkan kepada manusia adalah pendidikan. Iqro' pada surat al-'Alaq, ayat yang pertama kali turun meminta manusia untuk mencari pembelajaran.

Betapa berharganya pendidikan, hingga Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menulis dalam kitabnya yang lain, Takattul Hizbi bahwa tahap pertama kebangkitan Islam adalah mendidik masyarakat (tafa'ul ma'al ummah) sehingga terbentuk mindset kolektif (ra'yul 'am) Islami di tengah-tengah mereka.

Ketika masyarakatnya telah cerdas dan terbentuk mindset kolektif tersebut, maka akses terhadap kekuasaan (thalabun nushrah) diperlukan untuk melegitimasi dan menjaga pencerdasan tersebut. Karena sebagaimana pembodohan kolektif difasilitasi oleh negara dan kebijakannya, maka pencerdasan masyarakat sejatinya juga mampu difasilitasi. Pada dasarnya sebagaimana perkataan Imam Syafi'i rahimahullah, "Islam dan kekuasaan itu seperti negara kembar".

Pola pikir ini harapannya menjadi penengah untuk mereka yang masih menggantungkan revolusi kepada sosok tertentu (apalagi hanya satu orang, re: presiden). Mengangkat seorang pemimpin yang 'baik' tidak bermakna kebangkitan untuk masyarakat yang masih bodoh!

Juga harapannya menjadi penengah bagi mereka yang mencukupkan diri kepada pencerdasan akar rumput semata, karena sejatinya kebangkitan membutuhkan kekuasaan. Tanpa kekuasaan, masyarakat yang telah pandai pun bisa kembali bodoh, jika bukan karena alasan filosofis, minimal karena pragmatisme yang diciptakan oleh keadaan.

Dan ini adalah yang dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam. Pencerdasan akar rumput dilakukan di rumah Arqam ibn Abi Arqam, yang diteruskan oleh murid-murid beliau kepada keluarga di rumah masing-masing, atau ke circle tongkrongan (bahasa bocah Gen Z) di sekeliling mereka. Sementara itu, akses terhadap kekuasaan beliau lakukan kepada kaum beliau sendiri di Mekkah (yang tentu saja ditolak sampai muncul surat al-Kafirun), kepada kaum matrilineal beliau di Thaif (yang juga ditolak bahkan beliau sampai dilempari batu), kepada kabilah-kabilah Arab lainnya, sampai akhirnya orang-orang Madinah menerima beliau.

Di Madinah pun, beliau melakukan pencerdasan masyarakat dulu dengan mengutus sahabat beliau, Mush'ab ibn Umair, paralel dengan loyalitas pimpinan-pimpinan suku yang berhasil beliau dapatkan.

Tentunya semua adalah anugerah dari Allah Yang Maha Kuasa, keputusan terhadap akses mana yang paling baik dan paling tepat untuk suatu kebangkitan itu. Namun sebagaimana Allah memerintahkan kita untuk menyerahkan terbukanya jalan dan hasilanya kepada-Nya, Ia juga memerintahkan kita untuk memperjuangkan akses itu dengan tangan kita sebagai bagian dari sunnatullah sebab-akibat.

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ
"...Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri..."
(Ar-Ra'd (43):11)

Akses dalam kacamata perempuan Muslim

Memang, standar-standar kebangkitan telah kabur karena kosongnya kekuasaan Islam selama lebih dari satu abad. Tuntunan Allah yang mulia itu sendiri memang tidak sepenuhnya hilang, namun ia telah bercampur dengan adat, budaya, ideologi lainnya seperti kapitalisme dan sosialis-komunisme yang menyesatkan. Penghinaan terhadap perempuan yang membawa dalih-dalih Islam tentunya tidak dapat dibenarkan, karena Islam sendiri memberdayakan dan telah menyelamatkan perempuan dari ke-jahilliyahan. Namun, pemberdayaan yang berdasarkan standar ideologi lain juga tidak bisa menjadi suatu suaka, melihat bagaimana kapitalisme dan sosialis-komunisme hanya menghasilkan kebangkitan semu, yang tak pernah menyasar akar masalah.

Sebagai perempuan Jawa-Muslim, saya melihat keluarga saya adalah anomali. Narasi patriarki tidak familiar dalam keluarga lahir saya karena kami begitu memberdayakan perempuan, sebuah anomali dalam keluarga Jawa tentunya. Meskipun begitu, saya tetap menyadari bahwa patriarki itu ada dan bukan sesuatu yang baik. Hanya saja, saya ingin memberikan perspektif berbeda dari sudut pandang keluarga saya.

Dalam kandungan hegemoni Kapitalisme ini, tentu saja standar 'pemberdayaan' yang kami usung pun tak pernah lepas dari standar-standar kapital. Harapannya hal tersebut bisa dimaklumi, meskipun jangan sampai diwajarkan, bahwasanya keluarga kami sebagaimana mayoritas keluarga Jawa pada umumnya tidak mendapatkan akses pendidikan Islam sebagai suatu ideologi/falsafah hidup. Islam, lagi-lagi sebagaimana umumnya hanya diperlakukan sebagai sarana spiritual, tidak lebih. Akan tetapi manusia tak pernah lepas dari pencarian terhadap nilai. Meskipun dalam perjalanannya menggapai ideologi itu 'tak sampai', keluarga saya tetap berusaha mencari nilai itu dan mendapatkannya.

Akses terhadap pendidikan perempuan adalah sesuatu yang diperjuangkan keluarga kami sejak zaman nenek buyut saya. Nenek saya adalah seorang guru yang berpengaruh di lingkungannya. Dari tangan beliau lahir murid-murid dan anak-anak yang tak sedikit mampu mengubah nasib. Ya, karena mendapatkan akses.

Begitu luar biasanya akses terhadap pendidikan, ilmu ternyata menyebarkan kebermanfaatan seperti skema MLM/pyramid scheme, hanya bedanya ini adalah sesuatu yang membangkitkan. Dari satu orang perempuan membangkitkan sekian puluh orang, yang kemudian membangkitkan lagi sekian puluh orang. 

Keluarga kami sebenarnya tak pernah membedakan akses pendidikan antara anak laki-laki dan perempuan itu, namun karena grit para perempuannya jauh lebih tinggi, kami seolah seperti keluarga matriarki (bukan patriarki tapi matriarki hehe). Sebabnya, karena perempuan lebih memiliki pengalaman dan pengetahuan untuk mengambil keputusan. Yang sebenarnya kami tak pernah ingin mendominasi, namun karena keberanian dan kematangan pola pikir itulah, pendapat kami lebih banyak didengar dan keputusan kami diikuti. Bukan hanya memasukkan pendapat dalam diskusi ya, tapi betul-betul memutuskan

Apakah ada dampak negatif dari hal ini? Tentu saja iya, meskipun jika ditanyakan langsung kepada para perempuan di keluarga saya, mereka mengelak. Tapi dalam kacamata saya, iya. Dan kami, meskipun mulanya sama sekali tidak bermaksud, menjadi merendahkan laki-laki dan kapabilitas kepemimpinan mereka, itulah yang acapkali terjadi. Di sisi lain, kami juga lelah terus-menerus menjadi tumpuan, tak terkecuali dalam hal ekonomi, menjadi beban pikiran para perempuan. Kelelahan fisik dan batin.

Dalam pada ini, saya menjadi tersadar bahwa Islam yang memberikan akses pemberdayaan kepada perempuan itu pun tak pernah menuntut mereka memegang tampik kepemimpinan dan provider kolektif utama. Perempuan ditempatkan sebagai support system sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud, bahwa Rasulullah pernah bersabda,

أَلاَ أُخْبِرَكَ بِخَيْرٍ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ، الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ إِذَا نَظرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ، وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ، وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهُ
Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perempuan, yaitu istri salehah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan menaatinya, dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya (dan rumah serta harta yang ia tinggalkan).

Namun bagaimana jika laki-laki hari ini mengalami krisis kepemimpinan? Sebagaimana nahkoda bingung, ia membiarkan bahtera rumah-tangganya terombang-ambing di lautan tanpa arah yang pasti. Itu pun masih mending! Ada juga yang mengarahkan bahteranya hendak menabrak batu karang. Pada struktur keluarga patriarki, istri dan anak-anaknya hanya bisa pasrah menunggu kematian. 

Sementara di keluarga semi-matriarki seperti saya, perempuan itulah yang akan mengambil alih kemudi. Di balik mereka, laki-lakinya bisa bersantai dan bersenda-gurau, melemparkan tanggungjawab kepada keluarga perempuan mereka dan apabila bahtera itu berakhir menabrak karang ia hanya tinggal berkata, "Ya mau gimana lagi, kan kamu sendiri yang kemarin ngotot ingin mengambil alih!" Atau jika laki-lakinya lebih baik (hanya bingung saja), ia akan merasa tidak enak, tidak dihargai, sekaligus merasa bersalah karena perempuan mereka yang harus jadi bersusah-payah membimbing mereka... Sesuatu yang harusnya ia yang melakukan.

Masalah utama masyarakat hari ini tidak terdapat pada patriarki maupun matriarkinya. Ya, kedua itu masalah, tapi bukan yang utama. Yang utama adalah hilangnya standar Islam masyarakat yang membuat semua orang bingung terhadap perannya masing-masing: laki-laki yang mengalami krisis kepemimpinan maupun perempuan yang terpaksa harus mendominasi.

Dan lagi, semua karena akses terhadap pendidikan Islam yang ideologis terbatas, dibatasi oleh kekuasaan dan kebijakan yang menjadi anti-tesis setelah kekuasaan Islam runtuh pada abad yang lalu.

Namun ideologi tak pernah mati, terlebih lagi Islam yang dijamin oleh Allah akan dijaga-Nya hingga akhir zaman. Pendidikan Islam itu semakin menunjukkan popularitasnya, pelan-pelan, meskipun di saat yang sama masyarakat juga membayar harga yang sepadan akibat ketidaktahuan.

Bapak saya (iya, yang juga didominasi perempuan itu), berkali-kali lipat jauh lebih baik daripada bapaknya dalam hal kepemimpinan rumah tangga. Saya bisa membandingkan karena Allah memanjangkan umur keduanya sehingga saya bisa melihat sendiri. 

Bukan berarti kakek saya tidak memimpin dengan baik (menurut standar hari ini, iya), namun untuk standarnya di zaman itu, lebih dari lima puluh tahun yang lalu itu adalah standar kepemimpinan yang lumrah di kalangan masyarakat Jawa. Ayah yang sibuk bekerja, memenuhi kebutuhan rumah tangga. Bukan berarti ia tak peduli sama sekali terhadap anak dan istrinya, hanya saja waktu itu akses pendidikan yang mereka dapatkan hanya sebatas itu saja, membuatnya seolah-olah tak peduli. Diam, amat jarang berbicara. Menyerahkan urusan rumah dan anak-anak sepenuhnya kepada istrinya.

Bapak saya di sisi lain adalah ayah yang berisik. Ia menjejali kami dengan bermacam plan untuk kemajuan, setiap akhir semester akan disidang nilai rapot dan awal semester akan diminta mempresentasikan program kedepan. Anaknya harus mendapatkan akses terhadap pendidikan formal yang baik, yang nantinya akan mendorongnya mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang baik. Melelahkan? Tentu saja. Tidak pernah ia memberikan jeda. Tidak boleh ada mental illness, semuanya dituntut untuk menjadi yang terbaik. 

Di sisi lain, istrinya dialokasikan untuk mendukung anak-anak mereka saja. Karena penghematan biaya (yang akan dialokasikan untuk anak mereka) dan keterbatasan waktu karena kesibukan urusan domestik, sang istri tak mendapatkan kesempatan untuk berdaya. Yang sebenarnya juga itu bukan maksudnya, namun tuntutan keadaan membuat istrinya harus mengorbankan dirinya pula. Bukan karena bapak saya jahat, akan tetapi segitu sajalah akses pendidikan untuk kepemimpinan laki-laki di zamannya.

Namun dari sini kita bisa melihat bahwa pendidikan Islami yang sesuai fitrah masing-masing itu nyaris muncul kembali. Pelan-pelan di masing-masing zaman.

Kakek dan bapak saya juga bukan orang yang tak pernah tersentuh agama. Tidak. Kakek saya adalah pengurus cabang Muhammadiyah yang teredukasi oleh Islam. Sebagaimana bapak saya pun hingga usia paruh baya ini tetap datang ke masjid untuk mendengarkan ceramah-ceramah agama, apalagi yang berkaitan dengan kepemimpinan keluarga.

Laki-laki di keluarga saya bukanlah orang yang sempurna, namun keinginan mereka untuk mengusahakan akses yang memberdayakan peran mereka, itulah yang senantiasa saya apresiasi.

Perempuan di keluarga saya juga bukan orang yang sempurna. Saya berharap mereka, atau jika tidak kami yang meneruskan langkah mereka, bisa mendapatkan porsi tugas yang sesuai dengan tuntunan Allah. Karena laki-laki dan perempuannya, dengan pertolongan Allah (rahmah) berhasil mendapatkan harmoni (sakinah) atas kerjasama yang mereka usahakan (mawaddah), alih-alih memperlakukan satu sama lain sebagai musuh dalam selimut.

Harapan saya sebagai perempuan Muslim terhadap akses untuk diri saya sendiri

Meskipun yakin bahwa Allah yang mengatur dan menempatkan setiap makhluk pada garis hidupnya masing-masing, keresahan itu tetap ada. Sebab begitulah manusia, karena keterbatasannya melihat masa depan sekaligus godaan yang dibisikkan musuh bebuyutannya sejak zaman nabi Adam (setan), muncullah rasa waswas dalam hatinya.

Hari ini saya masih berada dalam naungan keluarga yang mewarisi pemberdayaan perempuan selama lebih dari lima generasi.

Ketika saya mendapatkan keluarga baru (re: menikah), apakah akses tersebut akan tetap bisa saya dapatkan?

Di keluarga lain kesegeraan untuk menikah begitu didorong. Namun di keluarga ini, kami selalu ditakut-takuti tentang pernikahan.

Hanya saja, setelah mendengar tentang Theory of Access itu saya jadi paham bahwa keluarga ini begitu menyayangi perempuannya. Mereka takut anak-anak perempuan kesayangan yang telah mereka perjuangkan untuk mendapatkan segala macam akses itu, akan padam dalam kurungan imam yang salah, yang tidak berkenan memperjuangkan hal yang sama untuk mereka.

Secara standar kapitalis, mungkin yang mereka pikirkan adalah akses terhadap kapital: rumah, mobil, uang, perhiasan, dan sebagainya. Namun saya tahu, yang keluarga saya maksud sejatinya adalah potensi kebermanfaatan yang mengalir dari tangan putri-putri mereka kepada orang lain. Value yang telah diperjuangkan sejak zaman nenek buyut saya itu, mereka takut akan berhenti sampai di sini saja. Padahal, ilmu yang bermanfaat adalah amal jariyah yang akan menolong manusia dan keluarga leluhurnya sebagai penerang pasca-jasad telah remuk, menuju alam yang belum bisa dicapai oleh indra manusia.

Apakah suami kami akan memberikan akses ini kepada kami, sebagaimana yang orangtua, paman-bibi, dan kakek-nenek kami usahakan dengan darah, keringat, dan air matanya?

Itulah mengapa ibu saya marah besar ketika saya yang naif dulu, di usia baru menginjak dua puluh, hanya ingin berada di rumah menunggu suami dan hanya membatasi ilmu saya untuk diajarkan kepada anak saya semata. Dengan kesal saya menuduh ibu bersikap materialistis karena memaksa saya bekerja untuk mendapatkan uang (yang mana memang iya). Namun, setelah Allah memberikan hikmah di usia saya yang kedua puluh lima tahun ini, saya menyadari bahwa maksud ibu saya jauh lebih dalam daripada itu.

Dan sebagaimana akses terhadap pendidikan berkembang, dan Allah sendiri yang menjamin manusia untuk mendapatkan hikmah asalkan ia mau 'bertebaran di muka bumi':

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.
(Al-Jumu'ah (62):10)
قُلْ سِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَٱنظُرُوا۟ كَيْفَ بَدَأَ ٱلْخَلْقَ ۚ ثُمَّ ٱللَّهُ يُنشِئُ ٱلنَّشْأَةَ ٱلْءَاخِرَةَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
Katakanlah: "Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
(Al-Ankabut (29):20)
قُلْ سِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَٱنظُرُوا۟ كَيْفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلُ ۚ كَانَ أَكْثَرُهُم مُّشْرِكِينَ
Katakanlah: "Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)".
(Ar-Rum (30):42)

hikmah itulah yang memberi pelajaran, baik kepada saya, maupun ibu saya. Saya jadi memahami bahwa ibu saya hanya ingin saya menjadi orang yang bermanfaat. Dan ibu saya pun berusaha menepis batas-batas materil untuk menyadari bahwa kebermanfaatan itu, yang iya memang membutuhkan uang, namun sebenarnya bukan hanya itu. 

Pemberdayaan harus dilakukan dengan berbagai cara. Meskipun miskin tak berpunya, ilmu adalah hal utama yang harus dipunyai, sebab minimal dengan ilmu itu kita bisa menebarkan kebermanfaatan.

Pemberdayaan untuk perempuan tidak harus bermakna karir. Namun yang utama adalah bagaimana ia bisa menjadi penyampai risalah Rasulullah, meskipun hanya sedikit yang ia ketahui untuk mencerdaskan masyarakat, mempersiapkan masyarakat menerima kepemimpinan yang juga dilandaskan kepada tuntunan Allah, dan berkontribusi meraih keberkahan-Nya.

Dahulu, ibu saya mungkin terpaksa tidak bisa mengambil peran ini karena pragmatisme keadaan. Namun, beliau selalu berharap agar anak-anaknya bisa menjadi lebih baik darinya. 

Tidak hanya di rumah sebagai pengurus tugas-tugas domestik yang penuh repetisi dan melelahkan, mengorbankan diri dan kewarasannya (meskipun saya ingin mengerjakan beberapa pekerjaan rumah nantinya, yang sisanya diharapkan bisa didelegasikan kepada orang lain secara profesional)...

Tidak hanya memasak dan mencuci piring seluruh keluarga besar di rumah mertuanya (meskipun saya juga berharap tetap bisa melakukan sebagian tugas ini semata karena ingin berbakti kepada orangtua dan mempererat kekeluargaan)...

Tidak dibatasi untuk berkarya, menjalin relasi dengan orang sekitar, serta mengunjungi rumah orangtua kandung dan keluarganya karena tak punya uang...

Ibu saya ingin saya tetap bisa mendapatkan akses terbaik.

Akses yang memberdayakan saya, tidak melukai, bahkan mencopot fitrah dan identitas saya, sebagaimana yang terjadi kepadanya karena ideologi, sistem, dan keadaan masyarakat.

Tidak benar bahwa ibu saya adalah perempuan yang tidak tahu apa-apa. Ibu saya adalah perempuan yang sangat kreatif dan cerdas. Dari didikannya, saya bisa membaca dan menulis, mengkaji Alquran dan terbiasa duduk di majelis-majelis ilmu. Dari tangannya ia mengajari saya menyulam, menjahit, merajut... Tumbuh-besar saya melihat beliau melakukan pembukuan untuk keuangan rumah tangga kami yang terbatas, dan dengan bahan-bahan sederhana beliau memasak makanan yang enak (terkadang dengan bentuk-bentuk lucu). Ditanamnya pula lidah buaya yang beliau gunakan untuk merawat rambut anak-anaknya. Dan dengan mengorbankan kepentingannya sendiri, digunakannya uang itu untuk membawa saya kursus menggambar di dua tempat berbeda, kursus sempoa, bela diri, dan sebagainya.

Selfless act-nya, membuat saya mendapatkan akses terbaik di tengah keterbatasan. Sebab keluarga kami bukan keluarga yang memiliki perusahaan besar yang menguasai dan nyaris memonopoli pasar. Keluarga kami adalah keluarga sederhana yang berkembang karena ibu kami mengorbankan diri dan kepentingannya sendiri.

Dan begitu buruknya selfless act itu, ibu kami tidak ingin kami mengalami hal serupa. Ibu kami ingin kami meneruskan perjuangan akses ini kepada anak-anak kami, tanpa harus melalaikan diri kami sendiri.

Dan bukankah itu yang Allah perintahkan dalam firman-Nya? Untuk beristirahat ketika malam, untuk bertamasya guna menghibur diri dan mencari hikmah, untuk makan dan minum dengan cukup... Namun di era Kapitalisme ini, berapa banyak ibu yang tidak mendapatkannya untuk memperjuangkan akses bagi keluarganya?

Ideologi dan sistem yang dilegitimasi di negara ini telah membawa kezaliman terhadap perempuan dengan membatasi hak mereka yang sebenarnya telah diatur oleh Sang Pencipta.

Oleh sebab itu, memperjuangkan akses terhadap pemberdayaan menurut saya, seorang Muslimah yang menginjak usia dua puluh lima ini adalah...

senantiasa diedukasi dan mengedukasi diri dengan tuntunan Allah,

memilih suami dan calon keluarga yang sebenar-benarnya menghamba kepada Allah,

serta memperjuangkan masyarakat dan menjadi support tegaknya kekuasaan yang meninggikan tuntunan Allah.

Dan dengan ini, saya meminta petunjuk dari-Mu.

Aamiin.


.


Bekasi, 21 Juni 2026

kucingmasjid_

yang selalu belajar dan semoga selalu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dear Husband, Everywhere is A Dying City

I understand why overthinking is a bad habit, not just a psychological issue, sometimes it can even lead to sins — lots of them. But we live in a dying city, although just like in everywhere else. It's so tiring to see such a fast-paced world. No rest, no emotion, people race to reach higher places... Although how high is high enough? I don't know. I'm dreaming of a simple and unsophisticated life. Anyway in the surah Quraish, a blessed person has enough to eat and is safe against fear. No Ferrari, no 4-storey house, no Gucci... Just a simple meal and protection. And yes, that's true... How much can you eat before your stomach exploded?  We don't need a lot... We just need simple things... الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ (4) But today, even food and security is a privilege, so are housing, clothing, healthcare, and education. Indeed, we live in a crossroad of ideologies. This world — that's dying — has developed Capitalism to its finest. ...

Larangan vs Paksaan Perempuan untuk Bekerja

Sebagai perempuan, menurutku perempuan memang makhluk Allah paling ribet. Sebagai perempuan, kami tidak suka dipaksa, tapi kami juga tidak suka apabila tidak diperhatikan (dibiarkan) wkwk. Mungkin ada benarnya hadits Nabi, "Berbuat baiklah pada para wanita. Karena wanita diciptakan dari tulang rusuk, dan bagian paling bengkok dari tulang rusuk adalah bagian atasnya. Jika engkau berusaha meluruskannya, maka ia akan patah, dan jika engkau membiarkannya maka ia akan tetap bengkok. Maka, berbuat baiklah pada para wanita." (HR. Bukhari No. 3331 & Muslim No. 1468) Perenungan kali ini adalah semata-mata untuk mengenal diriku. Karena "Barangsiapa yang mengenal dirinya, mengenal Tuhannya" kata para ulama. Jadi kali ini, dengan agak berat hati (dan penuh amusement juga wkwk), aku harus berempati kepada seluruh kaum Adam yang sulit memahami kami hahaha. Tapi memang beginilah kami. Sebagaimana laki-laki memiliki kelebihan dan kelemahan, perempuan pun memiliki kelebihan dan...