Paus pengembara ini terbiasa pergi jauh sendirian.
Jika bukan jarak, maka imajinasiku lah yang pergi jauh.
Sejak remaja aku bermimpi betapa menyenangkannya jika bisa naik kereta ekspres melintasi daratan Rusia, kemudian belok ke Mongolia, dan Cina.
Jika aku lahir di masa pra-modern, mungkin akan menyenangkan bisa mengikuti karavan Asia Tengah melintasi jalur sutra, atau menetap di sebuah padang hijau yang luas.
Apa memang aku ditakdirkan untuk banyak merasakan tempat-tempat baru?
Di kota pelabuhan Jawa Timur itu aku lahir, lalu bapak-ibuku mengajakku tinggal berpindah, dari Manado, Malang, kemudian ke ibukota ini, kembali ke tanah Jawa, lalu kembali ke ibukota lagi. Aku juga pernah merasakan Solo dengan ketenangan klasiknya, Jogja dengan hiruk-pikuknya, Bandung dengan syahdunya, Garut dengan langitnya yang luas, Bogor dengan bau petrichor-nya. Ah, cukup banyak rupanya. Belum kusebutkan Banjarmasin, Martapura, Cirebon, Semarang, Lebak, dan kota-kota kecil dimana keluargaku tersebar, atau yang aku menapakkan kaki sebentar untuk singgah.
Namun mungkin aku serakah dan menginginkan lebih?
Awalnya aku hanya ingin kabur.
Tapi seluruh muka bumi ini sama saja. Tuhan memberi masing-masingnya kelemahan dan kelebihan.
Ada yang kering, nyaris tandus, tapi di situ tempat keluargaku berada.
Ada yang melelahkan, terlalu cepat, tapi di situ Tuhan menempatkan rezeki untukku.
Ada yang asing, tak kukenal, tapi udara segar pagi harinya membekas di hatiku.
Karena itulah aku kembali bertanya, apakah aku ingin mengembara untuk mencari rahmat-Nya, ataukah aku hanya menjadikannya pelarian, pencarian untuk 'rumah' yang sebenarnya sudah ada namun tak pernah kusyukuri?
Dewasa ini baru kusadari bahwa keluargaku, semuanya, telah mengusahakan 'rumah' untukku.
Harus kuakui, meskipun cara mereka tak kusuka, nyatanya rasa kasih dan sayang itu Tuhan titipkan kepadaku pada mereka.
Nanti, ketika takdir membawaku ke dalam pelukan seorang pria, imam yang harus kukhidmati, apakah ia pun bisa menjadi rumah itu? Rumah yang bukan hanya melindungiku, namun juga dengan cara yang kusuka?
Yang menumbuhkan rasa takzimku kepadanya?
Aku tak pernah takut pergi jauh.
Tak pernah aku takut di tanah itu, tanah milik Tuhan yang juga menciptakanku.
Takkan Ia biarkan aku tanpa pertolongan.
Namun kepada laki-laki itu, aku takut.
Aku takut cinta, kasih, dan harapanku tak berbalas.
Yang sebetulnya aku pun tak pernah takut disakiti, sebab Tuhan pula lah yang melindungiku.
Yang aku takutkan sebenarnya adalah keluargaku, ayah dan ibuku yang bertambah renta itu, akan sedih dan tersayat hatinya melihatku terluka.
Sebagaimana aku tak pernah takut pergi jauh, aku juga tak pernah takut terluka.
Jika aku terluka, maka Tuhan lah yang akan mengobatiku.
Di sini, maupun di tanah yang jauh itu.
Tapi kepada ayahku yang melindungiku dengan kasih-sayang itu, aku takut menambah beban di hatinya.
Apakah laki-laki itu, yang menjadi imam baru untukku, bisa mengangkat beban itu dan menjadikan ayahku sedikit lapang?
Ataukah itu bukan tugasnya?
Apakah aku meminta terlalu banyak dari seorang manusia, oh Tuhan?
Pada akhirnya langkah ini, kusadari, bahkan bukan diriku yang benar-benar membawanya...
Hanya Engkau.
Komentar
Posting Komentar